Monday, November 11, 2013

Rewrite/Remake Proyek 2: Shadow, Agustin Sudjono

Proyek Lain: 

Proyek #RewriteRemake2 
Judul Cerpen: Shadow. 
Sumbangan Tulisan: Agustin Sudjono

Silakan menulis RewriteRemake ala kalian di kolom komentar, dengan syarat-syarat sbb:

Kamu boleh,
1. Mengubah judulnya
2. Mengubah sudut pandang (pov) penceritaan.
3. Mengubah awal dan akhir.
4. Membuat sambungan cerita.
5. Memberikan kritik membangun, tetapi harus membuat contoh seperti apa cerita ini agar lebih baik menurut pandanganmu. 

Yuk berlatih!

Shadow
Oleh: Agustin Sudjono

Aku ketrima di perusahaan minyak, La!! Akhirnya berhenti jadi pengangguran, hahaha.

Demikian isi SMS Rida. Lala tersenyum getir. Kabar bahagia dari sahabatnya semasa kuliah itu sungguh menusuk hatinya.

Tuhan tak adil. Rida yang mahasiswa kupu-kupu alias Kuliah-Pulang setiap hari bisa diterima di perusahaan besar, sementara dirinya yang selalu punya IPK kepala tiga dan aktif di organisasi pers kampus, justru “terjebak” di sebuah gedung dengan banyak anak usia tujuh sampai tiga belas tahun menimba ilmu. 

Lala jelas sebal. Rida sudah pasti mendapat upah jutaan rupiah, sementara dirinya? Sejumlah Upah Minimum Rakyat (UMR) kota Surabaya saja tidak! 

Lala merasa ingin meneteskan air mata. Hatinya dongkol bukan main. Kenapa ia serta-merta menerima tawaran dari temannya untuk menggantikan temannya itu menjadi shadow teacher atau guru pendamping untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)? Kenapa dia tidak menerima saja tawaran dosennya bekerja di sebuah perusahaan konsultan bagian rekrutmen walaupun ia juga tak suka tapi setidaknya gajinya pasti lebih mahal dong dibandingkan di sekolah ini.

“Bu Lala!” panggil Akbar, murid paling lucu di kelas Lala. “Zidan ngompol, celananya basah. Bau!” lanjutnya. 

Lala sigap menghampiri Zidan, ABK yang ia pegang, tentunya dengan kejengkelan dua kali lipat. Sementara di luar kelas, teman-teman Akbar berteriak, “Kelas dua Dolphin masoook!!”. 

Belum selesai kejengkelanku pada Rida, kini aku mendapat “bonus”. Duh... aku merasa aku terjebak di sini. Rasanya sudah seperti baby sitter saja. Harusnya aku bisa bekerja lebih dari ini di kantoran. Duuhh... 

5 comments:

  1. -Shadow-

    “Aku ketrima di perusahaan minyak, La!!! Akhirnya berhenti jadi pengangguran, hahaha

    Sms Rida membuatku tersenyum getir.

    “Tuhan tak adil! Kenapa Rida yang lebih beruntung dan bukan aku. Bukankah aku mahasiswa yang tak pernah lepas dari IPK tiga koma dan selalu aktif di organisasi pers kampus.

    Rida, mahasiswa kupu-kupu* itu bisa diterima di perusahaan besar, sementara aku justru “terjebak” di sebuah gedung dengan banyak anak usia tujuh sampai lima belas tahun yang memiliki kebutuhan khusus.

    Belum selesai kejengkelanku pada Rida, kini aku mendapat “bonus” yang tak urung menambah gunung kedongkolanku ingin meledak. Bu Lala! Zidan ngompol, celananya basah. Bau!”Akbar memanggilku memberitahuku jika Zidan, ABK yang aku pegang ngompol di celana. Lengkap sudah kejengkelanku hari ini.

    Udara panas hari ini menambah panasnya hatiku. Kejengkelanku pun terbawa hingga di rumah. Aldi suamiku terheran-heran dengan tingkahku hari ini. Hanya sekali ia mempertanyakan sikapku dan ku jawab singkat,”Capek!”

    Selesai membereskan rumah dan memastikan anak-anak sudah tertidur, aku masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Aku mendengar dengkuran suamiku pertanda banyak tugas yang ia selesaikan hari ini. Aku pandangi wajahnya yang terlihat letih.

    Aku tersenyum simpul demi mengingat peristiwa tiga tahun lalu. Mas Aldi akhirnya memilih aku dan menikah denganku padahal aku tahu, Rida sahabatku begitu mencintainya dan menharapkan Aldi sebagai pendamping hidupnya.



    *kupu-kupu : Kuliah – Pulang setiap hari

    ReplyDelete
  2. -Destiny-

    "Aku ketrima di perusahaan minyak, La!! Akhirnya berhenti jadi pengangguran, hahaha."


    Aku membaca ulang kalimat yang kuketik di ponselku dan tanpa ragu menekan tombol send. Bukan main senangnya diri ini begitu tahu perusahaan besar itu mau menerimaku. Dan tentu saja, Lala—sahabatku—harus jadi orang pertama yang mengetahui ini.

    Agak bingung juga sebenarnya aku, tiba-tiba mendapati surat dari perusahaan yang notabene-nya terkenal itu. Dulu aku hanya seorang anak kuliahan yang pulang ke rumah saat matahari masih berada di atas ubun-ubun kepala. Bisa dibilang ada ratusan orang di luar sana yang lebih pantas, atau mungkin seharusnya kesempatan ini jatuh pada orang seperti Lala.

    Lala itu orangnya rajin berorganisasi. Dia jauh lebih profesional dan berpengalaman dariku, tapi entah mengapa dia malah memilih untuk jadi guru pendamping untuk ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)?

    “Hei, kenapa melamun begitu? Awas disambar setan, lho.” Temanku Julian menepuk bahu ini dari belakang.

    “Nggak, aku cuma lagi bingung,” aku tersenyum padanya. “Kenapa ya aku yang keterima di sini? Kalau dilihat-lihat, Lala lebih pantas lho yang ada di posisi ini.”

    Julian pun memukul kepalaku perlahan menggunakan pensilnya, “Eh, bukannya bersyukur. Da, kamu nggak percaya yang namanya takdir?”

    “Percaya sih, tapi…”

    “Ya sudah. Orang itu punya jalannya masing-masing. Kalau Lala memang sudah ditakdirkan jadi guru shadow, kalau kamu…” Julian memotong kalimatnya dan tersenyum lebar. “…kamu ditakdirkan untuk kerja di sini sama aku.”

    Kini, aku yang berbalik memukul kepalanya dengan map sambil tertawa.

    “Apaan sih kamu, Jul?”


    Ya, mungkin ini memang takdir.

    ReplyDelete
  3. Wah kalau pendek gini tantangan remakenya lebih berat ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada permintaan khusus juga dari penulis asal, kalau bisa dibikinkan sambungan ceritanya ;)

      Delete