Saturday, August 6, 2011

Megatruh

Kulihat pagi-pagi Emak sudah mengangkat kainnya tinggi-tinggi.

“Marni, aku mau pergi ke kali, ngguyang Wage, Pon dan Legi.”

Oh, senyum Emak begitu ceria, seakan menggiring tiga sapinya yang tak kasat mata.

“Marni, Nduk, kamu susul Tarno sana. Cari rumput dari kemarin kok ndak pulang-pulang. Sapi-sapi itu harus diguyang.” Bantah Emak saat kuminta ia tak melakukannya.

Emak juga tak bisa menerima kenyataan kalau Tarno, kangmasku, hangus terbakar awan panas ketika hendak menyelamatkan ternak kami. Jasadnya belum ditemukan hingga kini.
Air mataku meleleh, tak kuasa melihat Emak berkubang lara. Retak sudah jiwa Emak, tak mampu menahan gempuran duka. Ia tak rela melepaskan ternak, huma dan anak sulungnya. Sudah seminggu ini aku menungguinya di rumah sakit jiwa.

“Relakan mereka pergi, Mak.” Kuhapus peluh Emak yang menetes basahi keningnya. Kubingkai wajah Emak dengan tanganku dan kubisikkan kata-kata pelipur derita. Emak terus menyebut-nyebut namaku, namun aku tak yakin kalau ia masih mengenaliku.

“Lihat, Marni. Legi maunya lari-lari.” Emak tertawa-tawa. Tangannya seakan menggosok punggung Legi yang telah mati terpanggang bara.

“Mak, sapi-sapi itu, Kang Tarno, kebun dan rumah itu semua bukan milik kita, mereka hanya titipan semata.”

Emak tak menggubrisku.

“Marni, bantu Makmu nggiring Legi masuk kandang.” Emak menarik-narik tangan seorang perawat yang mengajaknya masuk ke kamar untuk memberinya suntikan.

Sepotong tembang Megatruh terlantunkan dari sepasang bibir Emak yang membiru, mendayu-dayu. Oh, hatiku kian pilu. Raga Emak memang masih bersamaku, di sisiku, namun jiwanya mengembara nun entah dimana bersama Kang Tarno dan tiga sapinya.

***

13 comments:

  1. *sepertinya saya pernah baca ini(?)*
    dramatis banget :( dan nama-nama sapinya itu; wage, pon, legi, tambah kemudian lantun megatruh dari emak. duh, puitis nian.

    (sepertinya juga komenku kok ikutan dramatis gini, ya :D )

    ReplyDelete
  2. Mengharukan, Sebuah budaya Hubungan lekat antara manusia, ternak dan kebun, seperti seuntai rantai yang menguatkan,menyeimbangkan, saling menghidupi.
    Mengherankan saja ketika ada yang berkicau bahwa Manusia Indonesia sebagai bangsa yang gemar menyiksa dan menyakiti ternak tanpa alasan.

    ReplyDelete
  3. Hai Naim, benar katamu, pada suatu masa, kisah ini pernah ada di sana... hahahahaaa... ikut2an dramatis :)

    Pak Adi, mungkin karena manusia memakai perspektif yang berbeda untuk melihat hal yang sama :) bagi saudara2 kita yang di desa, ternak sangat berharga dan disayangi bagai anggota keluarga :)

    Terima kasih untuk Naim dan Pak Adi. Salam dari lereng Merapi :)

    ReplyDelete
  4. Ini, cerita yang sangat menyentuh... Sampai-sampai saya ingat sangat lika-likunya. Salah satu katarsis-nya mbak Endah ya...

    ReplyDelete
  5. dan pada suatu masa semua akan mejadi baik, kata sujiwo tedjo...ahahaha...

    cerita ini singkat tp dapat menceritakan seluruhnya...ini yg masih aku ngak bisa, krn terlalu bertele-tele aku-nya hehehe...

    menyentuh sekali ini Mbak

    ReplyDelete
  6. G, bener ini salah satu cara saya nyalurkan ketakutan pas erupsi merapi itu. Senang saya punya kenangan ini... nyesel kenapa tdk nulis fiksi lebih banyak waktu itu...

    Sari: dikau akhir2 ini filosofis sekali... hmmm... tanda2 menuju dewasa... hahahahahaaa
    cerita2mu itu tdk bertele-tele, tapi meliuk-liuk, lain lho, meliuk itu kalau pas gayanya bisa jadi sexy hihihihihihiii...

    ReplyDelete
  7. pendek dan padat, juga menyentuh. Mbak Endah memang paling jago mengulas sisi humanis, meski dalam fiksi sekalipun. :)

    ReplyDelete
  8. Walau sudah pernah baca ini, tapi tetap kesan pertama nggak bisa hilang... ada sisi humanis, mistis,dan kisah yang nrenyuhi.... sangat suka baca tulisan Mbak Endah ini

    ReplyDelete
  9. Pertama kali baca justru komen2nya terlebih dulu sebelon baca ceritanya, Mbak Endaahh.. sangkain mo nyeritain tentang sapii, ternyata yang didapatkan adalah cerita yang singkat, padat namun menyentuh :'(

    Kasian, Emak.. semoga suatu hari nanti Emak bisa menerima kenyataan dan merelakan mereka yang telah pergi.. karena masih ada orang di sisi Emak yang butuh kehadiran Emak, tidak hanya dalam bentuk raga semata :)

    Yang sabar yaa, Marnii..

    ReplyDelete
  10. Merapi, manusia, tanaman dan hewan, rupanya satu kesatuan yang tidak bisa dipisah2kan.

    Amukan Merapi tidak menghilangkan kasih

    Cerpen yang menggugah

    Salam hangat untuk mba Endah
    Della

    ReplyDelete
  11. setelah melihat tayangan saat Merapi erupsi beberapa waktu yg lalu, aku baru menyadari kalau penduduk Merapi dan (mungkin) sebagian penduduk Indonesia yg mencari melalui sawah dan ternak memiliki perasaan atau iktan yg sangat kuat dengan sawah dan ternak mereka ya mbak...
    ini cerpen yg menyentuh banget...
    tapi mau tanya maksud kalimat ini: Kubingkai wajah Emak dan kubisikkan kata-kata pelipur derita. Emak terus menyebut-nyebut namaku, namun aku tak yakin kalau ia masih mengenaliku.--->>>Kubingkai wajah Emak itu bagaimana maksudnya mbak? :)

    ReplyDelete
  12. @Indah: makasih doanya, ya. kayaknya beberapa korban merapi yg terguncang jiwanya sudah banyak yg pulih...

    @Mbak Della: waaahhh... jauh2 dari Belanda berkunjung ke lereng Merapi, makasih banyak, Mbak. Sering2 main ke kampung fiksi, ya :-)

    @Winda: memang bagi banyak orang di dunia, bukan cuma di Indonesia, ada kaitan amat kuat antara manusia dengan rumah/tanahnya.

    Khusus untuk bagian 'kubingkai wajah Emak' itu maksudnya Marni membingkai wajah Emak dgn tangannya, sudah saya perbaiki :-) makasih banyak atas kejelian dan koreksinya ya, jadi tidak jelas memang kalo tanpa ditambahi 'dengan tanganku' --> sekarang udah saya tambahkan.

    ReplyDelete