Saturday, February 19, 2011

Tepat Ketika Bibirnya Mengecup Hangat Tepi Keningku

Aku tahu dia tidak menyukai senja. Dia selalu melewatkan senja begitu saja, dengan asyik membaca koran atau memejamkan mata tanpa pernah mau menyaksikan matahari kalah dan digantikan dengan malam. Dia bersikukuh bahwa senja tidak pernah ada. Tidak ada itu yang namanya masa transisi, katanya selalu begitu, yang ada hanya revolusi, sambil mencium tepi keningku dan melangkah masuk ke kamar kami. Empat puluh tahun masa kebersamaan. Dia selalu setia, setia mengecupku ketika bangun pagi dan selalu menunjukkan bahwa dia terpesona kepadaku. Entah apa yang membuatnya terpesona, aku tak pernah tahu, dan dia tak pernah mempersoalkan apakah aku tahu atau tak tahu.

Laki-laki itu, memesonaku sejak awal aku melihatnya berdiri di atas panggung dan meneriakkan yel-yel, tentang kemerdekaan, tentang persatuan, tentang kebebasan, tentang berbagai macam wacana yang tidak mampu aku rengkuh dalam sekali teguk. Tetapi dia, yang berahang teguh, berkulit terang dan bermata tajam itu, berhasil meraih aku dalam satu kejap rengkuhan ketika entah dari mana batu-batu berjatuhan.

"Ikut aku!" Dia menarik tanganku dan membawaku berlari begitu cepat setengah menyeretku. Pada detik itu aku jatuh cinta, seperti aku jatuh cinta pada aroma kebebasan dan pemberontakan kaum muda pada jaman itu. Dan kami berlari diantara hiruk pikuk massa yang panik. Tidak sekalipun juga, dia melepaskan tanganku.

Ketika akhirnya kami dapat berhenti berlari, aku merasa menyesal. Menyesal karena dia harus melepaskan tanganku. Dan kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah, "Kamu cantik sekali saat pipimu memerah seperti sekarang."

Empat puluh enam tahun setelah itu, dia masih menyukai rona merah di pipiku yang sudah keriput. Sinar mata tajamnya pun sudah melembut oleh usia yang semakin senja. Suaranya masih lantang dan semangatnya tidak padam, namun tak lagi meledak-ledak seperti dahulu. Ia lebih mirip sebuah perapian yang hangat, ketimbang api yang menjalar liar siap menghanguskan siapa saja.

Aku menyaksikan cinta itu juga melembut, dari air bah yang menggelegak dan menghancurkan tembok-tembok pembatas, melarikan aku dalam gelombangnya, menjadi sebuah sungai yang tenang, lalu semakin menjadi danau yang teduh. Berkali aku jatuh cinta. Kepada dia, laki-laki itu, yang berjuang dari seorang anak laki-laki menjadi lelaki dewasa yang harus menyadari bahwa tidak semua idealismenya dapat terwujudkan. Ia belajar, sangat keras, menerima pukulan-pukulan ringan dan keras yang dibawa kehidupan ke dalam ruang hidup dan pengalamannya. Yel-yel, menjadi hanya yel-yel yang tak bisa ditukarkan di bank menjadi lembaran-lembaran uang. Yel-yel menjadi usang ketika masa-masa revolusi terbang melayang dan angin perubahan menetap, lalu menjadi teduh dan mapan. Dia menyadari satu-satunya cara untuk berhasil adalah belajar memperjuangkan keluarnya secarik kertas berisi pengakuan sebuah gelar akademis.

Dan aku ada di sana, menjadi saksi sejarahnya. Sejarah laki-laki bermata tajam yang telah menyentuh setiap sudut hatiku dengan kemesraannya yang tidak dibagikannya kepada sesiapa, hanya milikku.

"Jangan pernah potong pendek rambutmu." Katanya suatu hari. "Biarkan itu menjadi tanda pengikat diantara kita. Selama rambut itu masih panjang, selama itu pula cintamu tidak pernah berakhir. Milikku."

Rambut itu tidak pernah kupotong pendek. Kubiarkan sepanjang ia bisa tumbuh, hingga vonis itu dijatuhkan dan kemoterapi menjadi satu-satunya jalan yang harus kupilih. Aku dan dia meyaksikan lambang cinta kami berguguran, dan bersama setiap helai bagian dari diriku yang gugur, ia menyeka embun di matanya.

"Cintaku tetap milikmu." Bisikku. "Tidak ada yang berubah hanya karena wig ini sekarang menghiasi kepalaku. Rambut ini palsu, tetapi cintaku tidak pernah palsu."

Aku tahu, aku tahu, bisiknya sambil memelukku. "Dari senja ke senja kita berjalan bersama, walaupun aku tak pernah menyukai senja. Tetapi untukmu aku berdiri di sini di batas senja. Jangan takut berjalan melewati malam. Aku menemanimu di sini. Berjalanlah, berjalanlah... ada pagi diseberang sana. Berjalanlah." Bisiknya di senja ini. Ragaku sudah kepayahan menanggung bebannya.

Aku menutup mata dalam dekapannya, senja itu. Tubuhku terasa dingin, dia terasa hangat. Dan senja semakin merah sebelum menuju gelap. Aku merebahkan kepalaku di dadanya, mendengarkan degup jantungnya yang masih begitu kuat, meminjam kehangatannya menyalakan kehangatan di dadaku, mendengar ia berbisik ditelingaku, " Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.., berjalanlah, kekasih.. berjalanlah..." suaranya semakin samar di penghujung senja, satu-satunya senja di mana dia menyaksikannya, sedangkan aku menutup mataku, tepat ketika bibirnya mengecup hangat tepi keningku sambil berbisik, "Selamat jalan." Sampai jumpa, balasku lirih, di ujung helaan nafasku.

***

In memoriam, RW (RIP 1988) & CW (RIP 1977), sebuah kisah cinta yang tidak pernah terlupakan.

35 comments:

  1. deadly romantic! Ini untuk tema bulan februari, kan? Ya ampun. Saya belum nulis apa apa. hiks

    ReplyDelete
  2. oaaaaaa....menahan nafas...menarik mafas...mengharubiru kelabu...merasakan cinta...lalu menangis...hiks...
    siapakah Roely Wagiu (RIP 1988) & Christian Wagiu (RIP 1977)? opa dan omamu ya? kisah cintanya indah bangeeeettttt... T_T

    ReplyDelete
  3. #Meli, iya, temanya kan kasih sayang. sebenernya sih sedang blank, sedang kepingin nulis yang sejarah2, ternyata otak berdenyut2 ga kuat mengolah, huahaha.. akhirnya kembali ke yg romantis2 ajalah, apalagi bahannya bertebaran di mana2. Ayooo Mel, nulis. Ah kalo Meli sih cingchay lah soal romans ;)

    #Mbak Endah, yg tua2 itu ternyata lebih romantis, ahahahaah.. *menanti diri sendiri menjadi tua dan romantis, jangan jadi tua dan tkng ngomel wkkwkwkwkwwk*

    #Winda, hihi.. loe merhatiin aja. Iya, itu Oma en Opa gw, bener2 dua manusia yg berbeda, baik kebudayaan maupun latar belakang agama dan sifat2nya, tapi lengkeeeet dan romantis abis ;)

    ReplyDelete
  4. Hikss.. kisah cinta yang mengharukan, G :')

    Ngga tau dimulai sejak kapan, gua lebih tertarik ama kisah cinta di antara orang2 yang udah berumur seperti ini dibanding gelora cinta yang membara di antara yang masih muda2, hahahaha..

    *jadi keinget ama lagu "I Wanna Grow Old With You" pas baca kisah ini, hikss..*

    ReplyDelete
  5. loh, kok komen gue ilang ya... Hiks cerita yang mengharukan tapi gak cengeng dan romantis banget tanpa bikin eneg...karena gak lebay... True love friends...gak pandang usia gak pandang waktu gak terpisahkan...
    Lovely, Ge!

    ReplyDelete
  6. Proficiat. dan artikel pembuka yg mantap. Salam

    ReplyDelete
  7. Hiks... baru pagi ini aku sempat baca. Dan sepagi ini aku sudah menitikkan mata membaca kisah ini .. romatis dan mengharukan

    ReplyDelete
  8. Asyiik, sepertinya visitor dari Kalimantan tidak terdeteksi. bisa jadi silent reader sepuasnya.

    ReplyDelete
  9. Baca ini pas lagi makan siang di kantor, dengan lauk sayur nangka sambil dengerin Dave Koz (oke, ini perpaduan yang aneh) dan hasilnyaaaa : dahsyat abissss!! lemes nih dengkul...

    Udah ada yg promo ini ke FB belum sih?? kalo belum, kok ya bisa-bisanya ??? *ngancem

    Mbak G, kalo ketemu aku berjanji mengecupmu.... :), plis jangan jijay ya hahahahhahaha

    ReplyDelete
  10. Bukan mbak G kalau gak seperti ini tulisannya....


    Bagusss bangett..

    ReplyDelete
  11. @Indah, Tengkyuu, kalo gw pas nulis ini, bukan cuma karena pengaruh umur (huahahaaa, berasa tuwirnya) tapi lebih ke baru aja ngobrol2 nostalgia ttg Oma-Opa, abis itu pas gw liat hape nyokap, ternyata nyokap masukin foto2nya dengan bokap di sana, jadilah gw terharu-biru dan nulis yg seperti ini. Tapi, gw musti berenti nulis ttg perpisahan, dan menulis lebih banyak ttg pertemuan, hahahaahahaaa... *harus berlatih*

    @Ria, hoho... coming from you yg selalu tanpa basa-basi, maka itu adalah komplimen yg membuat gw nyengir senyengir2nya, uhuiy, tengkyu.

    @MD, hihi... saya mencuri sebagian ide Anda, Pak, huehueheue... terima kasih banyak ^_^

    @Deasy, makasiiy... lain kali saya traktir magnum deh, hihi..

    @MD (lagi) hahaaha.. ada2 saja.

    @Sari, semanis dirimu... #halah, halah!

    @Roni, allooowww.. iya, kita ngungsi ke sepetak perkebunan dengan udara segar. Mau cari angin baru, jauh dari Kompasiana Metropole ^_^

    @Dina, hikss.. jadi terharu dan tersanjuuung, makasih banyak udah baca, udah di share juga. Definitely dapat magnum! ^_^

    @Anonymous, makasiiiiihhhh...

    @Tyas, thanks sudah mampir dan sudah baca, tulisan Tyas juga keren. Semoga selaluuuu sehat ya..

    Buat semua yg sudah membaca, thanks atas apresiasinya.

    ReplyDelete
  12. Pernah baca dikompasiana, benr ga seh?
    akh... tapi teuteup aje bikin mata banjir hiks
    *Semoga seperti harapan mbak G, menanti diri sendiri menjadi tua dan romantis, jangan jadi tua dan tkng ngomel :D sialnya malah banyakan yg tukang ngomel mbak :(

    ReplyDelete
  13. ^_^ Mbak Iis, belum, ini belum pernah dimuat di Kompasiana, cuma untuk Kampung Fiksi aja, Kayaknya saya banyak nulis kisah cinta suami-isteri dibanding kisah cinta para kekasih ya..

    Dan tentang tukang ngomel ituh, iya, huahahaa.. banyakan yg tukang ngomel daripada yang tetap manis dan romantis, wkwkwwkwk... *waduh bagaimana dunk?*

    Thanks Mbak Iis :D

    ReplyDelete
  14. jadi speechless, mbak G...endingnya bikin mengharu-biru....

    ReplyDelete
  15. Geee...udah lama gak baca cerpen kamu... duhhh..indah banget ini ya..biar telat gak pa pa ya..))

    ReplyDelete
  16. @Inge, yuuuk nulis juga yuk di sini :) Katanya mau nulis sesuai tema? Makasiiih udah mampir dan baca :)

    @Irene, tema kita bulan ini Perempuan dan Profesi, nulis yuuk :) Tengks ya.. hihi.. *jadi melayang2*

    ReplyDelete
  17. membaca kalimat pembukanya saja sudah terasa benar kalau cerpen ini memiliki kekhasan tersendiri. gaya ucapnya renyah dengan alur bercerita yang sarat suspensi. mantab. salam kreatif.

    ReplyDelete
  18. yahh.. kuk mati sih!!
    kan kasian hidup sendirian..

    Bagus banget ceritanya, andai aku bisa menulis seperti ini..

    ReplyDelete
  19. Cerita yang sangat indah...
    salam kenal yah...

    ReplyDelete
  20. indah sekali Mbak G....

    dimana ya bisa menemukan cinta seindah itu

    hiks

    ReplyDelete
  21. Tante Gratcia,
    Dija mau undang Tante Gratcia di ulang tahunnya Dija yang ke 1.
    tanggal 23 maret lusa ini...
    Tante datang yaaa
    Tante Ikutan juga yaaa.....

    http://princessdija.blogspot.com/2011/03/dijas-first-birthday-giveaway-letters.html

    ReplyDelete
  22. saya setuju dengan pembaca lain, ini benar2 romantis. saya hanyut di dalamnya.

    ReplyDelete
  23. hikz... jd mewek baca cerita ini. sungguh menyentuh dan mengharu biru. jadi ingat salah satu video klip nya Ungu.

    "Ku ingin slamanya mencintai dirimu
    Sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku
    Ku ingin slamanya ada di sampingmu
    Menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku"

    pengen tetap bisa menikmati usia senja bersama orang tercinta, semoga... :)

    ReplyDelete
  24. haruuu, dan aku telah kehilangan cintaku tanpa pesan tanpa kata... hikkk

    ReplyDelete
  25. baru baca, tapi nahan napaaas... Wuaah jadi ingat Emak Abah kemarin saat cukur2an rambut hehe... Abah milih nyukur rambut biar sama deng Emak.
    sy blum ada ide mba' masih lama kan?

    ReplyDelete
  26. aku membacanya berulangkali dan gak pernah bosen...so romantic...mau ah kaya gitu **hahaha berangan2

    ReplyDelete
  27. Terima kasih untuk semua komentarnya :D

    Baru lihat soalnya :)

    ReplyDelete
  28. "Rambut ini palsu, tetapi cintaku tidak pernah palsu". Kenyataan pahit bahwa cinta tidak bisa menahan derasnya waktu tapi suatu kali cinta membuat lupa akan waktu. Suka dengan pilihan-pilihan katanya. Tidak berlebihan.

    ReplyDelete